Karangtaruna Desa Bedingin


TUGAS  KARANGTARUNA
menanggulangi berbagai masalah kesejahteraan sosial terutama yang dihadapi generasi muda, baik yang bersifat preventif, rehabilitatif, maupun pengembangan potensi generasi muda di lingkungannya



FUNGSI KARANGTAURNA
  • penyelenggara usaha kesejahteraan sosial
  • penyelenggara pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat
  • penyelenggara pemberdayaan masyarakat terutama generasi muda di lingkungannya secara komprehensif, terpadu dan terarah serta berkesinambungan
  • penyelenggara kegiatan pengembangan jiwa kewirausahaan bagi generasi muda di lingkungannya
  • penanaman pengertian, memupuk dan meningkatkan kesadaran tanggung jawab sosial generasi muda
  • penumbuhan dan pengembangan semangat kebersamaan, jiwa kekeluargaan, kesetiakawanan sosial dan memperkuat nilai-nilai kearifan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia






    Peringatan HUT RI 76 Desa Bedingin

     Bedingin, Peringatan HUT RI ke 76 tahun 2021 dimeriahkan dengan kegiatan olahraga antar lingkungan. Kemeriahan kemerdekaan di sambut baik dan semangat oleh pemuda desa Bedingin, Kec. Sambit, Kab. Ponorogo yang berkolabirasi bersama mahasiswa KKN UNY dengan tetap melaksanakan dan mematuhi protokol kesehatan dengan sangat ketat. 


    Beberapa kegiatan dihadirkan untuk memberikan hiburan serta sarana peningkatan imun tubuh kepada masyarakat disituasi pandemi Covid-19. Adapun kegiatan yang dilaksanakan diantaranya adalah lomba futsal dan tarik tambang antar lingkungan serta lomba kemasyarakatan lainnya.


    Kegiatan lomba semarak kemerdekaan ini berlangsung mulai tanggal 27- 29 Agustus 2021 yang bertempat di lapangan desa Bedingin (Beji Sirah Keteng). "Kegiatan semarak kemerdekaan ini sebagai salah satu wadah bagi masyarakat desa Bedingin untuk menumbuhkan rasa persuadaraan, gotong royong, sportif, dan peningkatan imun kesehatan." Ujar Staf Pemerintah Desa Bedingin.


    Dalam sambutanya perwakilan Pemdes Bedingin bapak Nito Nurprandono berpesan agar kegiatan ini menjadi media pemumbuhan bakat generasi muda Desa Bidingin untuk kedepan. (JE)

    Kontribusi Sentra Industry Genteng Dalam Upaya Peningkatan Ekonomi Masyarakat Di Desa Bedingin Sambit

        

    Kontribusi menurut kamus bahasa Indonesia adalah sumbangan atau pemberian. Jadi kontribusi adalah pemberian adil setiap kegiatan, peranan, masukan ide, dan lain sebagainya. Kontribusi juga dapat berarti individu tersebut berusaha meningkatkan efesiensi dan efektivitas hidupnya, dalam hal ini dengan menajamkan posisi perannya, sesuatu yang kemudian mejadi bidang spesialis, agar lebih tepat sesuai dengan kompetensi. Kontribusi dapat diberikan dalam berbagai bidang yaitu pemikiran, kepemimpinan, profesionalisme, finansial, dan lainnya.
     

    Pada dasarnya kontribusi pada sentra industry sangat diperlukan oleh masyarakat itu sendiri, dengan tujuan adanya sentra industry ini mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Dengan adanya kontribusi sentra industry genteng di Desa Bedingin Sambit ini mampu membantu masyarakat dalam hal mengatasi permasalahan ekonomi, contohnya seperti berikut:

    1. Menyerap tenaga kerja ataupun mengurangi jumlah pengangguran 

    Kegiatan usaha kerajinan genteng di Desa Bedingin Sambit pada umumnya masih bersifat home industry (industry rumah tangga) artinya yang mengerjakan kegiatan usaha tersebut sebagian besar dari anggota kelompok. Ketrampilan dalam membuat genteng, diperoleh dari pengalaman orang tuanya yang bersifat turun temurun. Sehingga tidak membutuhkan pendidikan khusus, karena cara produksinya tidak begitu sulit. Semakin banyaknya jumlah penduduk nantinya akan berdampak pada permasalahan dalam mencari pekerjaan. Di era modern ini mulai dibuka industri-industri baru dengan tujuan memberikan peluang kerja serta dampak yang positif bagi masyarakat. Selain menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar maupun dari masyarakat luar desa. Sentra industry genteng di Desa Bedingin Sambit ini tentunya juga mengurangi jumlah pengangguran.

    Berdasarkan hasil Kuliah Pengabdian Mayarakat (KPM) yang kami lakukan di Desa Bedingin khususnya di Dukuh Krajan, (sampe: PG Bumi Lestari, miliknya Mbah Giono), pemilik sentra industry tidak melakukan proses produksi secara mandiri, tetapi mereka memilih untuk menggunakan tenaga kerja cetak, nyisik, dan usung dari masyarakat. Tenaga kerja yang digunakan oleh pemilik sekitar 10-15 orang (tidak tetap) dan 3 orang yang bekerja tetap. Tenaga kerja dari anggota keluarga, masyarakat sekitar, dan masyarakat luar desa Bedingin. Hal ini dilakukan dengan tujuan memberikan peluang kerja serta untuk memenuhi penjualan maupun pemesanan produk yang meningkat. 

    1. Meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat

    Pendapatan keluarga berarti besarnya jumlah uang yang diperoleh dalam satu hari kerja. Pendapatan yang diperoleh keluarga maupun masyarakat perlu diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tanpa adanya penghasilan bagi setiap individu maupun masyarakat yang sudah masuk kategori bekerja nantinya akan berdampak pada masalah perekonomian individu tersebut. Seperti halnya sentra industry di Desa Bedingin Sambit ini, mampu memberikan kontribusi yang sangat penting bagi masyarakat. Berdasarkan hasil Kuliah Pengabdian Mayarakat (KPM), diperoleh hasil bahwa dengan berkerja di sentra industry genteng ini masyarakat mengalami peningkatan pendapatan yang maksimal dan pastinya menjanjikan bagi masyarakat. 


    -KPM IAIN-

    Munculnya Jathil Lanang yang Sudah Lama Tak Terlihat

        Kabupaten Ponorogo dikenal sebagai Kota Reog atau Bumi Reog. Sebutan ini muncul karena Ponorogo merupakan daerah asal dari kesenian Reog Ponorogo. Meskipun kesenian yang ada di Ponorogo sangatlah beragam, namun masyarakat umum tetaplah mengenal Ponorogo dari kesenian Reog-nya. Reog dalam sajiaannya merupakan sebuah kesenian yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan berbagai karakter dan perwatakan pelaku. Setiap pertunjukan Reog menampilkan tari warok, bujangganong, klanasewandono, dadak merak, dan jathil.

        Jathil sendiri merupakan salah satu unsur utama dalam pertunjukan Reog selain dadak merak. Dulunya, penari jathil dalam kesenian Reog Ponorogo adalah kaum laki-laki. Namun di akhir tahun 80-an keberadaan penari jathil lanang (laki-laki) tergantikan dengan jathil perempuan dengan segala kontroversi pada masa itu. Selain itu, jathil perempuan dianggap lebih menarik minat penonton.

    Penampilan Jathil lanang di Desa Bedingin (Sumber: www.kompasiana.com/Nanang Diyanto)

        Di awal tahun 2017 kemarin, muncul kembali kesenian jathil lanang khususnya di Desa Bedingin, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo. Hal ini bermula dari salah seorang mahasiswa ISI yang melakukan penelitian terkait skripsinya mengenai jathil lanang di Desa Bedingin. Pada saat itu pula dilakukan pertunjukan Reog obyog yang juga diiringi dengan penari jathil lanang di jalan Desa Bedingin. Para penampil menari sambil berjalan di sepanjang jalan desa dan berhenti di setiap pertigaan atau perempatan. Kesenian jathil lanang ini sendiri biasanya juga ditampilkan pada salah satu kegiatan besar di Desa Bedingin, yaitu Bedingin Bungah.

        Diharapkan dengan bangkitnya jathil lanang ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kesenian Reog dan tarian pengiringnya di masa lampau. Sehingga identitas keasliaannya tetap terjaga agar tetap terbangun ciri khas dari kesenian Reog Ponorogo sebagai kesenian yang sudah mendunia yang dimiliki Kabupaten Ponorogo.

    Sumber:

    Brillian, SD Nur Ilham. 2018. Koreografi Jathil Lanang dalam Pertunjukan Reog Cokro Menggolo di Desa Karangan Kecamatan Badegan Kabupaten Ponorogo. Skripsi. Surakarta: Institut Seni Indonesia.

    Kompasiana.com (2017). Kebangkitan Jathil Lanang dalam Seni Reog Ponorogo. Diakses pada 01 Juni 2021, dari Kebangkitan Jathil Lanang dalam Seni Reog Ponorogo Halaman all - Kompasiana.com 


    Industri Genteng: Salah Satu UMKM Unggulan di Desa Bedingin


    Desa Bedingin terkenal sebagai salah satu pusat industri genteng di Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo. Dimana mayoritas warganya bekerja sebagai pengrajin genteng. Usaha ini merupakan warisan dari nenek moyang yang turun-temurun hingga sekarang. Dulunya, pengrajin genteng di Desa Bedingin hanya ada beberapa, namun lama kelamaan warga lainnya tertarik untuk ikut membuat hingga jadilah seperti sekarang ini, hhampir seluruh warganya bekerja sebagai pengrajin genteng. Bahkan apabila kita berkunjung ke Desa Bedingin, sejauh mata memandang yang terlihat adalah genteng tanah liat yang sedang dijemur di halaman rumah warga.

    Bahan baku dari pembuatan genteng adalah tanah liat, yang seharusnya khusus digunakan untuk membuat genteng agar hasil yang diperoleh maksimal, genteng tidak mudah retak ataupun pecah. Para pengrajin di Desa Bedingin dulunya mendapatkan tanah liat dari dalam desa sendiri, namun seiring berjalannya waktu, bahan baku yang ada di Desa Bedingin menipis sehingga mengharuskan para pengrajin untuk mencari dan mendatangkan bahan baku dari desa lain di sekitar Bedingin.


    Pada zaman dahulu, proses pembuatan genteng masih manual, 100% memanfaatkan tenaga manusia. Namun sekarang ini proses pembuatannya ada yang sudah menggunakan bantuan mesin, seperti pada proses penggilingan. Proses pembuatan genteng dimulai dengan proses pencucian yang dilanjutkan dengan proses pendiaman selama satu minggu. Tanah liat yang sudah didiamkan selama satu minggu diinjak-injak dan digiling menggunakan mesin penggiling. Tanah liat yang sudah siap cetak kemudian dicetak hingga membentuk genteng dan selanjutnya di-press menggunakan mesin. Setelah itu genteng dijemur di bawah sinar matahari. Lama proses penjemuran tergantung pada intensitas sinar matahari. Apabila sinar matahari sedang terik-teriknya, proses penjemuran dapat dilakukan hanya dalam satu hari, namun jika tidak, proses penjemuran harus dilakukan lebih dari satu hari. Tahapan yang terakhir yaitu pengovenan. Genteng dioven selama kurang lebih 2 hari 2 malam. Setelah itu genteng siap untuk dipasarkan.

    Salah satu pengrajin genteng di Desa Bedingin adalah Bapak Lamidi. Di tempat beliau genteng yang diproduksi ada beberapa jenis, yaitu genteng press kotak, press bulat, press mantili, press garuda, dan lain-lain. Harganya sendiri berkisar dari Rp 1.200 – Rp 1.800 / pcs. Genteng hasil produksi biasanya dipasarkan melalui tengkulak ataupun dari mulut ke mulut. Sejauh ini produk genteng Bapak Lamidi sudah dipasarkan sampai kota-kota di sekitar Ponorogo seperti Madiun, Ngawi, Magetan, dan Nganjuk.





    Ngabuburit Budaya

     


    Ngabuburit Budaya adalah event yang digagas oleh penggiat seni Desa Bedingin dalam rangka turut memeriahkan Bazar Ramadhan di Halaman Balai Desa.

    Ngabuburit Budaya dilaksanakan setiap hari sabtu dan minggu selama Bulan Ramadhan 1442 H dan diikuti oleh semua lapis generasi pelaku seni Desa Bedingin.

    Diharapkan kegiatan ngabuburit budaya mampu menjadi wadah penggiat seni dalam upaya pelestarian dan regenerasi seni di Desa Bedingin.

    @ririndwiyanti

    Kunjungan Gubernur Jatim ke Bedingin




    Gubernur Jawa Timur, Bupati Ponorogo dan Wakil mengikuti panen raya di Desa Bedingin, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo, Selasa (6/4/2021).

    Panen raya ini sengaja dilakukan di Ponorogo yang capaian produktivitasnya menunjukkan prestasi tertinggi di Jawa Timur tahun 2020.

    Tamu undangan disambut oleh harmoni lesung dan tari Dewi Sri oleh penggiat seni Desa Bedingin.

    Saat melewati bazar UMKM Desa yang dimeriahkan oleh BUMDes, PKK dan Karang Taruna, ibu Khofifah sangat tertarik dengan adanya produk unggulan desa yang menurutnya unik dan menjadi peluang untuk mengembangkan ke pasar nasional.


    Gubernur Jatim didampingi Bupati dan Wakil juga melakukan survey  Pendataan Keluarga (PK) Tahun 2021 di 3 Rumah warga Desa Bedingin yaitu keluarga Bapak Misban, Bapak Agus dan Bapak Karno. 

    Tak lupa Gubernur Khofifah juga membagi-bagikan masker, sembako kepada masyarakat serta buku tulis kepada anak-anak.

    @ririndwiyanti




    © all rights reserved
    made with by templateszoo